RSS
Facebook
Twitter

Tuesday, 30 May 2017

Tak Dinyana.

Belakangan aku keranjingan menung, mengingat. Berkisah yang sebenarnya tak cukup elok bagimu. Sekalipun itu, tetap dinikmati dan dirasa. Kadang bosan, mengulang hal yang sia-sia dan percuma. Tentu, ini semua untuk hal yang tiada arti. Tapi tetap dilakukan, untuk memawas diri dari sergapan taktik minda pandai mu.

Tak kunyana, benar ini kesalahan yang diperbuat. Kadang diri ini cukup-cukup sudah. Cukup, untuk tetap bertabah walau perih, tetap sabar walau pedih. Tapi apalah, yang dipohon pun tak cukup akalnya. Dasar arogan, biang dari penyakit hati.

Kepada titipan sajak ini, kembali padanya. Semuanya bergantung padanya. Aku bukan enggan menoleh secuil dari mu. Munafiknya namanya. Aku hendak berjarak pun susah. Sekali berjarak, ada mendekat. Sekali, mendekat. Bomb~ bisa sekali mengulang hal fatal itu dua tiga kali.

Pintalah nasib yang baik-baik saja lah. Toh, semua atas kehendak Illahi.

..........

Pukul sembilan setengah, kepada tarikh 30 hari bulan di pertengahan 2017.

Wednesday, 24 May 2017

Mana Tempat Peraduan

Dua menimbang tempat beradu.
Beradu bukan bercinta, bukan mengais-ngais cinta.
Tapi, ada rasa sebenarnya yang hendak terucap.

Kau tahu.

Sampai itu tak terucap, demi sebuah ketakutan.
Takut tak terbalas, meski itu sangkaan awal.
Takut tak terima, meski itu mulaan hipotesa

Lalu.

Kemana mencari tempat peraduan.

Sembahyang kepada Tuhan, kata guru.
Bukan janji manis Tuhan menunjukkan itu.
Tapi kenyataan, yang siap kau terima.

Perangai Yang Tak Berkesudahan

Untuk mu yang masih saja keras kepala, aku pohon, jauhi kesalahan.
Salah pun, kau tetap benar, konon apalagi benar? Naik sudah daun telinga mu.

Jangan fikir orang tak bosan, ya.
Bosan pun, orang tak akan bercakap.
Lebih baik, kau jauhi saja kesalahan.
Untuk menghindari kebosanan kaum kami.

Macam kata orang, lebih baik mencegah daripada mengobati.
Kau patuhi lah, kelak orang tak akan bergumam lagi tentang mu.

Macam membantin. Aih sungguh menjijikan perangai itu.

Adalah kau yang tak berkesudahan dengan tingkah arogan mu.
Biasa, karena itu yang kau mau, meski tidak sadar sekalipun