RSS
Facebook
Twitter

Tuesday, 17 October 2017

Buka Institute Bersama Wahyu Blahe Guru SEO Medan - Waktu itu, aku bersama teman-teman lainnya yang magang di Trimedia Advertising, diberi informasi kalau ada kelas yang bakal dibuka di Medan, kelas yang materinya berkaitan dengan kerja-kerja kreatif, seperti Copywriting, Film, Digital, Periklanan, dan banyak macam lainnya, terus udah gitu, kelasnya dibagi secara percuma alias gratis tanpa dikutip biaya sepeser pun. Tentulah begitu dengar kata gratis langsung antusias untuk ikut karena penasaran. Kalau aku pikir-pikir dimana lagi mau nambah ilmu di sekarang ini yang gratisan, ya kan. Bahkan aku enggak pernah tau apa nama kelas ini sebenarnya. 


Buka Institute Bersama Wahyu Blahe Guru SEO Medan
Buka Institute Bersama Wahyu Blahe Guru SEO Medan


Jadi kita disuruh datang ke Jalan Sei Bahkapuran No 18 A, di setiap hari Jum'at dan Sabtu pukul lima sore. Kelasnya di akhir pekan, sodara! memangkas nongkrong malam di akhir pekan ini namanya! Tapi enggak apa lah, aku pikir ini jauh lebih bermanfaat nampaknya. 

Ngomong-ngomong soal nama kelasnya yang aku enggak pernah tau sebelumnya. Jadi, tiba pertemuan pertama pun dimulai, di momen inilah baru aku tau nama kelas ini adalah Buka Institute. Nama yang cukup sederhana, ditambah dengan kata Institute, menambah kesan yang cukup superior sejauh ini, hehe! Kelas yang dipelopori oleh sekumpulan anak-anak (yang katanya) muda di kota Medan yang punya mimpi besar terhadap Medan dan mengambil andil dalam proses agar mimpi itu terwujud, eak..

***

Ini sudah diminggu ke 10 aku berada di Buka Institute, kali ini pematerinya adalah Wahyu Blahe Guru SEO Medan

Jujur sih, selama bergabung di dunia blogging, aku enggak pernah ambil pusing soal views apalagi SEO, trik dan tips bagaimana blog kita menjadi yang pertama dalam mesin pencarian. Namun berkat beliau ini, SEO membuat ku penasaran, sedikit-sedikit ilmu dasar SEO berhasil aku tangkap. Sudah enggak asing samaku istilah SEO sejak bergabung di blog tahun 2012, namun sejak saat itu sampai sekarang enggak paham bagaimana cara memaksimalkannya, sebelum kenal dengan sang Guru SEO Medan.


Sunday, 11 June 2017

Angan Mudik

Diambil dalam perjalanan saya, perjalanan bukan saat mudik.

Saya orang Sumatera, enggak kenal istilah Mudik sebelum hegemoni media Jakarta merebak. Istilah Mudik biasa dipakai saat ini untuk menyebut tradisi orang-orang Indonesia menjelang lebaran: pulang kampung. Iya pulang kampung sekejap, berlebaran dengan sanak famili.

Sekarang, saya sudah kenal Mudik. Walaupun sudah kenal, di usia 20 sampai sekarang saya belum pernah menyertai mudik. Saya lahir di sini, keluarga saya semua di sini, datuk dan nenek dari sini, belah ayah atawa ibu, semua dari sini, pun saat ini saya masih belum seorang perantau, jadi semua masih di sini. Di sini, Medan maksudnya, lek!

Barangkali suatu saat nanti saya pasti mudik, kalau beristri bukan orang dari sini. Saya mau merasa ber-MPV-ria dengan perkakas lebaran, kalau mudik ke daerah yang bisa dijangkau dengan roda empat. Atau malah saya mudik antar pulau? Pasti dengan burung besi, huu kerja kejar target buat bisa beli tiket pesawat di hari raya yang aduhai mahalnya.

Karena saya suatu saat nanti mudik, kali saja tips-tips mudik nyaman dan aman yang biasa ramai diinformasikan di media menjelang lebaran, serta informasi pantauan arus lalu-lintas jadi bermanfaat buat saya. Intinya, perihal mudik yang selama ini dikabarkan tak pernah saya gubris, tapi kali ini malah jadi perhatian saya.

Itu semua mengangan saya soal mudik, karena nasib tak pernah mudik.
Kamu yang bermudik di lebaran kali ini, nikmatilah mudik mu, bertemu sapa dengan saudara di kampung halaman.



Selamat hari raya Idul Fitri 1438 H.
Salam Lebaran semua....


#WritingProject1 #RamadhanProduktif #NulisSemangat

Tuesday, 30 May 2017

Tak Dinyana.

Belakangan aku keranjingan menung, mengingat. Berkisah yang sebenarnya tak cukup elok bagimu. Sekalipun itu, tetap dinikmati dan dirasa. Kadang bosan, mengulang hal yang sia-sia dan percuma. Tentu, ini semua untuk hal yang tiada arti. Tapi tetap dilakukan, untuk memawas diri dari sergapan taktik minda pandai mu.

Tak kunyana, benar ini kesalahan yang diperbuat. Kadang diri ini cukup-cukup sudah. Cukup, untuk tetap bertabah walau perih, tetap sabar walau pedih. Tapi apalah, yang dipohon pun tak cukup akalnya. Dasar arogan, biang dari penyakit hati.

Kepada titipan sajak ini, kembali padanya. Semuanya bergantung padanya. Aku bukan enggan menoleh secuil dari mu. Munafiknya namanya. Aku hendak berjarak pun susah. Sekali berjarak, ada mendekat. Sekali, mendekat. Bomb~ bisa sekali mengulang hal fatal itu dua tiga kali.

Pintalah nasib yang baik-baik saja lah. Toh, semua atas kehendak Illahi.

..........

Pukul sembilan setengah, kepada tarikh 30 hari bulan di pertengahan 2017.

Wednesday, 24 May 2017

Mana Tempat Peraduan

Dua menimbang tempat beradu.
Beradu bukan bercinta, bukan mengais-ngais cinta.
Tapi, ada rasa sebenarnya yang hendak terucap.

Kau tahu.

Sampai itu tak terucap, demi sebuah ketakutan.
Takut tak terbalas, meski itu sangkaan awal.
Takut tak terima, meski itu mulaan hipotesa

Lalu.

Kemana mencari tempat peraduan.

Sembahyang kepada Tuhan, kata guru.
Bukan janji manis Tuhan menunjukkan itu.
Tapi kenyataan, yang siap kau terima.

Perangai Yang Tak Berkesudahan

Untuk mu yang masih saja keras kepala, aku pohon, jauhi kesalahan.
Salah pun, kau tetap benar, konon apalagi benar? Naik sudah daun telinga mu.

Jangan fikir orang tak bosan, ya.
Bosan pun, orang tak akan bercakap.
Lebih baik, kau jauhi saja kesalahan.
Untuk menghindari kebosanan kaum kami.

Macam kata orang, lebih baik mencegah daripada mengobati.
Kau patuhi lah, kelak orang tak akan bergumam lagi tentang mu.

Macam membantin. Aih sungguh menjijikan perangai itu.

Adalah kau yang tak berkesudahan dengan tingkah arogan mu.
Biasa, karena itu yang kau mau, meski tidak sadar sekalipun